Boru Hasian dan Anak Na burju

Boru Hasian dan Anak Na burju
Elisabeth Thw Br. Regar dan Mathyas P. Siregar

Adalah baik menjadi orang penting tetapi lebih penting menjadi orang baik

DO WHAT EVER CAN YOU DO..

Sabtu, 27 Maret 2010

RESENSI BUKU: Kontekstualisasi

Bab 18.
Pembenaran Melalui Iman
Tafsiran Galatia 2 secara Kontekstual

Kontekstualisasi Anugerah:
Galatia 2 adalah bentuk kontekatualisasi yang diilhami oleh Roh Kudus yang sangat dibutuhkan leh jemaat Galatia pada pertengahan abad pertama Masehi. Galatian 2 merupakan ajaran tentang “ Pembenaran oleh anugerah melalui iman” dan ajaran ini juga sangat dibutuhkan di India maupun di Eropa. Bagi yang belum pernah mendengar berita tentang Injil berdasarkan dan yang sudah pernah mendengar tapi kurang memahaminya sangat dibutuhkan kontekstualisasi yang sesuai dengan buadaya mereka.
Berikut ini merupakan ajaran tentang pembenaran oleh anugerah yang ditinjau dari tiga konteks budaya, yaitu:

1.Galatia pada abad pertama:
Ketika jemaat Galatia mendengar dan menerima berita Kristus, jemaat ini mengalami penyerangan dari orang-orang yang mendesak pemahaman mereka dengan mengatakan bahwa iman harus disertai oleh ketaatan kepada Taurat Musa, dan yang mengatakan bahwa iman itu baik tapi tidak cukup dan orang Kristen harus hidup dengan gaya Yahudi. Dalam situasi ini jemaat Galatia membutuhkan kontekstualisasi agar mereka memiliki pemahaman yang kuat tentang makna anugerah dan iman dan keberhasilannya dalam keselamatan.
2.Jerman abad ke-16:
Ketika Paus Leo X dan Uskup agung Mainz mempergunakan surat-surat penebusan dosa untuk mencari keuntungan, kemudia gereja dan Negara membagi-bagi keuntungan dari surat penebusan dosa itu. Mereka memanfaatkan jasa-jasa Kristus dan para orang kudus yang berlimpah-limpah. Melihat hal tersebut, Luther menyampaikan protesnya dengan mengeluarkan pemberitaannya yaitu, Sola Scriputa, Sola Gratia, sola Fide. Luther menerima murka dari Paus dan para penguasa gereja. Ajaran Luther inilah yang sangt dibutuhkan oleh jemaat pada saat itu.

3.India Abad 20:
Dalam konteks india terdapat padangan dunia kebudayaan dan keagamaan hindu yang menitik beratkan ajaran tentang karma yang menekankan pertanggung jawaban seseorang atas keberadaaan hidupnya yang bukan merupakan kebetulan melainkan hasil dari keadilan dari tindakan yang di perbuat orang tersebut. Menurut ajaran ini, manusia tidak dapat terbebas dari karma. Agama Buddhis juga mengatakan bahwa keterbebasan seseorang dapat dicapai melalui pencerahan sejati. India membutuhkan konteksualisasi ajaran tentang pembenaran atau pembebasan melalui iman dalam Anugerah alah saja.

Dari ketiga konteks di atas kita dapat melihat bagaimanakah Paulus dan Luther memberitakan tentang pengajaran pembenaran oleh anugerah oleh karena iman. Bila kontekstualisasi ini di laksanakan Luther di india pada abad 20 maka kemungkinan yang akan ia lakukan adalah: mengupayakan agar kontekstualisasi tersebut dilaksankan oleh orang india sendir agar ciri-ciri setempat dapat termuat dalam usaha kontekstualisasi ajaran pembenaran oleh anugerah melalui iman. Ada tiga tawaran prinsip yang penting dalam kontekstualisasi, yaitu:
1.Tafsiran kontekstualisasi yang autentik harus mencerminkan cara pemahaman dari budaya penerima, dan membandingkan kebenaran Alkitab dengan gagasan-gagasan kebudayaan sehingga kebenaran Injil di kukuhkan dan di beritakan.

2.Kebenaran Injil dipertahankan dengan cara menegaskan sifat untuk “kontekstualisasi” yang terdapat dalam Alkitab yang diilhamkan oleh Roh Kudus.

3.Buku penafsiran adalah sarana tepat untuk berita-berita khusus yang disesuaikan dengan budaya setempat yang menghasilkan pemahaman dan dampak.


Bab 19. KONTEKSTUALISASI UNTUK ORANG MUSLIM

Strategi Perjumpaan Terbuka
Sepanjang sejarah perjumpaan Islam dan Kristen, perdebatan terbuka telah memainkan peranan yang penting. Para utusan Kristen dari zaman Konstantin sampai Raymundus Lull, dan para penginjil modern sejak Samuel Zwemer sampai Josh McDowell, telah berusaha mengungkapkan kekurangan-kekurangan Islam melalui debat. Namun jelas bahwa debat itu tidak berhasil. Di antara agama Islam dan Kristen tetap beranggapan bahwa mereka adalah sebagai pemenangnya. Namun hal ini tidak berarti bahwa strategi perdebatan tidak ada gunanya. Dalam setiap perbedaan tidak menunjukkan siap yang jadi pemenang. Dengan adanya debat yang dipersiapkan dan disajikan dengan cermat, debat dapat mendorong orang untuk lebih jujur mencari kebenaran. Dalam usaha dialog antar umat beragama memerlukan pemahaman bahwa pertanyaan-pertanyaan dalam rangka menemukan persamaan tidaklah mungkin, namun dialog dapat digunakan dalam rangka memberi penjelasan tentang apa dan bagaimana agama tersebut. Dialog humanisme akan memecahkan kebuntuan dalam setiap dialog.

BAB 20. KONTEKSTUALISASI UNTUK ORANG KRISTEN NOMINAL

Kekristenan nominal adalah suatu jenis komitmen keagamaan sekuler, yang dipusatkan bukan lagi pada Allah dan Kristus, melainkan pada perumusan ajaran Kristen yang diterima oleh satu gereja tertentu, atau pada lembaga gereja itu sendiri. Pengubahan pusat perhatian ini karena terbukanya celah antara yang kudus dan sekuler, yang mempersoalkan apakah yang adikodrati itu ada dan menggoda orang untuk membuang komitmen kepada Allah yang pribadi dan menggantikannya dengan idiologi konkret atau dengan suatu benda. Orang Kristen nominal dapat memfokuskan perhatiannya pada suatu sistem kebenaran atau pada suatu pengakuan tertentu, dan dalam hal ini tingkkat komitmennya diukur oleh ortodoksinya.
Sementara sekularisasi berlangsung terus mengikis kewibawaan ajaran Kristen, orang merasa terpaksa untuk menyerahkan diri kepada sesuatu yang lebih kokoh daripada Allah yang tidak kelihatan. Bentuk-bentuk keagamaan yang dilembagakan menjadi pusat perhatian. Komitmen sekuler terhadap perusahaan, badan pemerintah, klub sosial ataupun klub olahraga, menggantikan komitmen keagamaan yang bermakna. Hal-hal yang berfungsi sebagai pengganti agama ini berkuasa sementara sekularisasi terus berkembang, dan komitmen dibatasi pada bidang kehidupan yang bersangkutan.
Tema-tema teologis yang harus ditekankan dalam pemberitaan Injil kepada orang Kristen mencakup paling tidak tiga hal, yakni:

1.Keputusan Pribadi adalah mutlak perlu.
Wajar bila manusia mencari kemantapan dan jaminan dari sistem-sistem dan tradisi-tradisi yang tampaknya berakar kuat dalam sejarah. Karena alasan-alasan ini, pemberitaan Kristen harus menekankan kembali perlunya keputusan pribadi untuk mengikut Yesus. Orang Kristen harus di tantang untuk membuat komitment pribadi yang radikal dan membayar harga ke muridan.

2.Kedudukan Kristus sebagai Tuhan.
Hal yang tidak masuk akal bila orang berkata bahwa ia mengikuti agama yang menembus dan menghubungkan segala segi kehidupan, sementara ia menyingkirkan segala pengaruhnya kepada satu bidang kehidupan saja dan membatasi fungsinya pada usaha menjamin kedudukan sosial. Kekuasaan Kristus atas seluruh bagian kehidupan adalah satu-satunya pemecah terhadap kesulitan-kesulitan yang timbul akibat komitmen yang terbatas terhadap sistem kebenaran yang menyeluruh.

3.Roh Kudus Memberi kuasa.
Struktur-struktur sosial tidak pernah memberikan kuasa supaya seseorang dapat menaati tuntutan-tuntutan sosial. Berita tidak hanya menegakkan norma-norma yang jelas, melainkan juga memberikan kemampuan untuk memenuhi tuntutan-tuntutan Allah.

Mencegah Kesalahpahaman
Ibrani 1:1-4 sulit dipahami oleh masyarakat Amerika Utara sedikitnya dalam dua bidang, yakni:
Bidang Pertama:
Tradisi-tradisi dan lembaga-lembaga sosial keagamaan Ibrani. Pada jaman surat Ibrani ditulis orang mengenal lembaga-lembaga yang tidak dikenal sekarang.
Bidang Kedua:
Makna beberapa kata Yunani. Cara pengarang menggunakan sejumlah kata dalam ayat ini mungkin sulit dipahami oleh orang-orang modern.

Penafsiaran Menentukan Makna Nas
Sebagai dasar untuk kontekstualisasi, kita harus mengetahui konteks aslinya. Singkatnya, pengarang agaknya adalah seorang kristen Helenis dari kristen kedua yang menulis surat ini kepada orang-orang percaya di Roma, tak lama sebelum tahun 64 masehi.

Penerapan: Khotbah yang Kontekstual
Di Eropa Tengah dan Utara, orang selalu berusaha untuk membentuk suatu khotbah yang kontekstual untuk orang kristen nominal. Pembaca dalam hal ini perlu memahami bahwa tata ibadah Eropa, ruang lingkup tempat khotbah ini disampaikan pada umumnya dicirikan oleh suasana hikmat dan keagungan. Ada pembaca yang mungkin merasa khotbah kurang menarik karena gaya teologis yang ketat nalarnya dan tidak mengandung humor dan cerita, namun hal ini pun tergantung kepada budaya si pembaca tulisan khotbah.


Tanggapan Dan Kesimpulan Pembaca

Di setiap perjumpaan dengan agama lain, kebudayaan, kehidupan sosial dan aspek kehidupan masyarakat, keKrisnenan membutuhkan satu usaha untuk menjadi inklusif dan terhindar dari tembok-tembok pemisah gereja dari unsur-unsur tersebut di atas. Usaha tersebut adalah Kontekstualisasi. Dalam kontekstualisasi juga harus tetap ada prinsip-prinsip dalam upaya menyajikan Injil dalam bentuk-bentuk yang dapat dipahami dan dimengerti (ciri-ciri setempat) oleh masyarakat yang menerima usaha kontekstualisasi tersebut.
Dengan memperhatikan dan menganalisa serta memakai ciri-ciri lokal/setempat maka kontekstualisasi tidak menjadi suatu usaha yang berbentuk kata atau tulisan saja, tetapi tetap di dasarkan pada dasar prinsip kontekstualisasi yaitu : Agar Injil di dengar dan di mengerti dan diterima oleh masyarakat di luar kekristenan. Jika Kekristenan dan Injil di upayakan untuk di mengerti dan di pahami kemudian di imani oleh orang banyak maka Injil dan kekristenan harus terus berkontekstualisasi dengan mengunakan dan menerapkannya melalui keunikan ciri-ciri setempat dalam masyarakat di mana Injil dan ke-kristenan tersebut mengalami perjumpaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar